LAZ AL Azhar Sosialisasikan Zakat melalui Seni Budaya Wayang Orang Punakawan Show

Edupublik.com, Jakarta – Pusat perbelanjaan atau mall menjadi salah satu destinasi utama umat muslim dalam mengisi waktu selama Ramadhan. Membeli barang keperluan untuk puasa dan lebaran, mengadakan acara buka puasa bersama, atau sekedar jalan-jalan menjadi salah satu alasan kian meningkatnya animo masyarakat untuk mengunjungi tempat ini di bulan Ramadhan.

“Memanfaatkan fenomena ini, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar menggelar acara Punakawan Show yang bekerja sama dengan mall-mall di wilayah Jabodetabek. Harapannya, agar para pengunjung mall bisa membawa oleh-oleh ilmu yang bermanfaat dari hasil jalan-jalan mereka ke pusat perbelanjaan, jadi gak sekedar jalan-jalan,” kata Direktur Eksekutif LAZ Al Azhar, Sigit Iko Sugondo, Jumat (9/10/2017) malam, di Mall One Bel Park Fatmawati.

Tak hanya pesan moral, edukasi sadar zakat juga diberikan dalam acara yang sudah digelar sejak tahun 2014 dan selalu dibanjiri oleh pengunjung yang rindu akan hiburan yang bermanfaat dan penuh dengan pesan moral. Tahun ini Tim Punakawan mengusung tema “Togog Menggugat”.

“Dalam cerita dikisahkan Togog yang merupakan adik dari Semar sekaligus Paman dari Petruk, Gareng dan Bagong datang dengan berkeluh kesah tentang apa yang ia alami. Togog merasa kalau dirinya menjadi korban fitnah dan menjadi objek berita hoax dalam keadaan dunia khususnya tatar nusantara yang tengah memanas. Padahal yang ia lakukan dan perjuangkan adalah demi kebaikan Kerajaan Astina,” ujarnya.

Sementara itu, melihat sang Paman gundah gulana Petruk, Gareng dan Bagong pun mencoba menghibur dengan berbagai cara, namun tak berhasil. Tak menemukan ketenangan di negeri sendiri Togog akhirnya memutuskan terbang ke luar negeri untuk mencari ketenteraman. Namun sayang waktu berminggu-minggu yang ia habiskan tak juga mendatangkan yang ia harapkan.

“Akhirnya ia kembali ke Astina untuk bertemu dengan Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Tetapi kedatangannya kali ini untuk menggugat kepada Tuhan tentang apa terjadi pada dirinya. Togog merasa Tuhan tidak adil. Ia banyak berbuat dan bekerja untuk negara tetapi harus menjadi korban hinaan dan cacian di masyarakat,” ungkap Sigit.

Sosok semar yang dikenal dengan arif dan bijaksana pun akhirnya menenangkan kondisi. Dinasehatinya Togog bahwa semua yang sedang dialaminya merupakan garis takdir yang Maha Kuasa dan harus dihadapi dengan rasa ikhlas dan ridho agar timbul keberkahan. Togog pun menerima apa yang disampaikan Semar. Ia pun mulai merelakan dan mulai mengikhlaskan apa yang sedang ia alami. [dade]

punakawan show

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates